Thursday, March 7, 2013

What's Your Dream?

Kalau ada yang bertanya kenapa dulu saya mengambil kuliah kedokteran padahal saya tidak menyukainya, saya menjawab "karena keren". Saat itu saya kelas 3 SMA, dan harus melanjutkan kuliah, sedangkan saya tidak memiliki bayangan sama sekali akan menjadi apa nantinya. Saya hanya melihat bahwa menjadi dokter dengan jas putih itu "keren", dihormati, dibanggakan, sehingga saya memutuskan mengambil jurusan kedokteran umum. Tidak ada paksaan dari orang tua atau intervensi siapapun, apalagi saya masuk melalui jalur PMDK atau tanpa test. Ketika sudah mulai kuliah dan menyadari bahwa saya tidak menyukainya, saya pun tidak mau beranjak karena "gengsi". Masak seorang Rum Martani tidak mampu kuliah kedokteran? Mau ditaruh dimana muka saya. Maka saya pun melanjutkan kuliah dan menyelesaikannya dengan cum laude, bahkan menjadi beberapa orang pertama di angkatan saya yang diambil sumpah dokter-nya. Kejadian ini berlanjut ketika saya memutuskan untuk mengambil tugas sebagai Dokter PTT padahal saya tidak suka. Semua mengalir begitu saja, karena saya tidak tahu kemana arah yang saya tuju. Maka tidak heran ketika kuliah dan bekerja sebagai Dokter PTT saya juga nyambi sebagai penyiar, sesuatu yang saya suka. Saya teringat dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sering sekali menggunakan "jangka" -alat tulis yang digunakan untuk membuat lingkaran- sebagai mic , dengan satu kakinya saya tancapkan di meja, dan kaki lainnya saya gunakan sebagai corong. Kemudian saya berpura-pura siaran dan berkhayal menjadi penyiar terkenal. Kalau saya pikirkan sekarang, sebenarnya sejak kecil sudah kelihatan saya ingin menjadi apa, yaitu orang yang berbicara di depan umum. Entah penyiar, MC, atau apapun itu. Tetapi anehnya saya tidak tertarik untuk menjadi seorang guru atau dosen, mungkin karena saya merasa profesi tersebut kaku dan tidak bebas. Sempat mendaftar menjadi dosen di Fakultas Kedokteran almamater tetapi tidak lolos seleksi.

Tidak adanya tujuan yang jelas saat itu membuat saya berputar-putar dengan beragam profesi meskipun saya tidak pernah menyesalinya. Justru saya menganggap itu adalah pelajaran yang sangat berharga dan ingin saya bagikan kepada anak-anak muda sekarang. Seandainya saya focus dan mengerjakan apa yang saya sukai, maka 14 tahun sejak saya lulus kuliah, saya sudah menjadi seseorang yang sangat handal di apapun profesi yang saya tempuh. Sekali lagi semua bermula dari ketidaktahuan saya mengenai apa yang ingin saya capai, yang sekarang saya bahasakan sebagai "impian". Hal inilah yang membuat saya begitu terpanggil untuk berbagi dengan anak-anak muda agar mereka mengenal impiannya sejak dini dan mengejar impian tersebut dengan segenap cinta dan hasrat. Baru setelah mengenal impiannya, langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana caranya mengejar impian tersebut dengan menemukan lingkungan dan orang-orang yang terhubung dengan apa yang diimpikan atau membangun jejaring.

Mark McCormack dalam bukunya "What They Don't Teach You at Harvard Business School" mengisahkan mengenai penelitian yang dilakukan di Harvard antara tahun 1979 dan 1989. Di tahun 1979, para siswa lulusan program MBA (Master of Business Administration) diberi pertanyaan "Apakah Anda memiliki tujuan yang jelas dan tertulis untuk masa depan Anda dan menyiapkan rencana untuk mencapainya?". Fakta yang didapatkan sungguh mengejutkan karena hanya 3% dari lulusan tersebut yang memiliki tujuan dan rencana tertulis. Tigabelas persen lainnya memiliki tujuan tetapi tidak tertulis, dan 84% lainnya tidak memiliki tujuan yang spesifik, selain lulus kuliah dan menikmati musim panas. Sepuluh tahun kemudian, di tahun 1989, penelitian dilanjutkan dengan mewawancarai lulusan yang sama dan mendapatkan kenyataan bahwa 13% mahasiswa yang memiliki tujuan tetapi tidak menuliskannya memiliki pendapatan rata-rata 2x lebih banyak dibandingkan 84% mahasiswa yang tidak memiliki tujuan sama sekali. Yang lebih mengejutkan, mereka menemukan bahwa 3% lulusan yang memiliki tujuan dan rencana jelas serta tertulis memiliki pendapatan rata-rata 10x lebih banyak! Perbedaan yang sangat besar dan hanya disebabkan pada kejelasan tujuan yang mereka tetapkan untuk diri sendiri ketika mereka lulus. Ketika membaca ini saya tertegun dan menyadari betapa saya sudah tertinggal jauh dengan teman-teman saya yang fokus. Empat belas tahun bukanlah waktu yang pendek, dan ketika kita melakukan sebuah profesi secara terus menerus maka kita akan menjadi sangat ahli di bidang tersebut. Peribahasa mengatakan "repetition is the mother of mastery", pengulangan adalah sumber dari penguasaan. Hal inilah yang mendorong saya ingin berbagi dengan anak-anak muda, pentingnya memiliki tujuan atau impian yang jelas, agar mereka mampu mengeluarkan seluruh potensinya dan mencapai kebermaknaan hidup, karena hanya dengan mencintai apa yang dikerjakan atau mengerjakan apa yang dicintai, orang mampu mencapai prestasi tertingginya sehingga memberikan kontribusi yang maksimal untuk orang-orang di sekitarnya.

Di dalam buku "Think, Act, Love, Lose Weight" karangan Shane Jeremy James disebutkan ada tiga alasan mengapa orang tidak memiliki tujuan yang jelas. Yang pertama adalah orang menganggap bahwa menetapkan tujuan itu tidak penting. Mereka tidak percaya itu ada manfaatnya dan tidak punya waktu untuk duduk diam menuliskannya. Alasan kedua adalah karena orang tidak tahu caranya menetapkan tujuan. Tujuan tidak sama dengan harapan atau impian. Tujuan adalah harapan atau impian yang begitu nyata tertulis dan jelas. Alasan berikutnya mengapa orang tidak memiliki tujuan yang jelas adalah karena mereka takut gagal. Sebagian orang menyabotase dirinya dengan tidak menetapkan tujuan dimana dia merasa ada kemungkinan gagal di bidang tersebut. Kita perlu merubah pola berpikir kita bahwa kita tidak gagal, tetapi hanya karena kita tidak memiliki strategi yang tepat. Takut adalah sesuatu yang alami. Setiap kali kita memulai hal yang baru seperti program baru, karir baru, hubungan baru, perasaan takut pasti ada. Masalahnya adalah kebanyakan orang membiarkan rasa takut itu menghentikan mereka dari mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan impiannya.

 Saya memutar ulang 14 tahun yang telah lewat, menikmati setiap momen yang pernah saya lalui, karena saya tahu saya tidak akan pernah bisa merubahnya. Bagian itu sudah menjadi masa lalu yang cukup untuk dilihat saja tanpa perlu disesali, karena setiap perjalanan yang telah saya lewati memberikan warna tersendiri bagi saya sekarang ini. Semuanya indah, dan "memorable". Yang terpenting adalah masa sekarang, saat ketika saya mulai menetapkan impian, menuliskannya menjadi tujuan yang jelas dan spesifik, mempersiapkan rencana untuk mencapainya, dan menggerakan seluruh pikiran dan energi ke sana. Sungguh berbahagia seandainya saat ini Anda sudah memiliki impian yang jelas dan bergerak menuju sasaran. Tetapi seandainya belum, saatnya untuk memikirkan ulang apa impian yang ingin Anda capai. Tetapi kalau pun saat ini Anda sudah bekerja di suatu tempat dan merasa tidak ada impian lagi, saatnya untuk mencintai apa yang Anda kerjakan dan memberikan seluruh hati Anda padanya. Ciptakan impian-impian baru tentang apa yang ingin Anda lakukan untuk orang-orang sekitar sehingga kita akan selalu digerakkan oleh antusiasme. Selamat berkarya dan memberikan seluruh hati Anda padanya! 

Wednesday, March 6, 2013

My Life's Journey (2003-2013)

Berhenti sebagai karyawan dan memutuskan menjadi freelance trainer adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah saya ambil. Sepuluh tahun yang lalu, 1 Maret 2003 saya datang ke Jakarta untuk bekerja di Industri Farmasi setelah menyelesaikan tugas sebagai Dokter PTT di Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga. Saya teringat dengan jelas sebuah momen dimana saya duduk termenung di tempat praktek sore, dan bertanya-tanya saya akan menjadi apa. Masa depan terlihat gelap dan belum ada bayangan. Saya tidak mau menjadi Dokter, tetapi juga belum tahu mau kemana. Saya hanya tahu bahwa saya suka mengajar dan berbicara di depan umum, tetapi menjadi dosen pun bukan pilihan yang tepat. Bagaimana mungkin saya menjadi Dosen Fakultas Kedokteran kalau saya tidak mencintai profesi Dokter? Akhirnya saya memutuskan berangkat ke Jakarta setelah diterima sebagai Medical Trainer di sebuah Perusahaan Farmasi. Proses menuju ke sana juga terasa dramatis. Saya teringat ketika harus interview di Jakarta sementara saya tidak punya saudara, seorang teman, yang juga mendorong saya untuk berkarir di Jakarta, menawarkan untuk tinggal di rumahnya di Kelapa Gading, bahkan saya diberi mobil plus sopir yang siap mengantar saya ke tempat interview. Tidak berhenti sampai di situ, teman saya pun mengantar saya untuk mencari tempat tinggal sampai saya mendapatkan kos di daerah Cempaka Putih, dekat dengan kantor saya yang pertama. (big thanks to dr Carla Permanasari, never forget your kindness to me). Kepindahan saya dari Salatiga ke Jakarta juga terasa mengesankan, diiringi lambaian tangan teman-teman kos yang sudah seperti saudara sendiri. Dari sinilah perjalanan dimulai, my life's journey…..

Bekerja sebagai Medical Trainer di Interbat adalah pengalaman pertama saya sebagai "karyawan perusahaan" setelah sebelumnya menjadi "Dokter Puskesmas". Di perusahaan ini pula untuk pertama kalinya saya merasakan naik pesawat terbang, menginap di hotel dan kesempatan bepergian ke seluruh Indonesia sampai Papua. Mendatangi tempat-tempat baru, bertemu kenalan-kenalan baru, merasakan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Segalanya menyenangkan, apalagi bagi saya yang baru pertama kali bekerja di Jakarta. Sebagai seorang medical trainer, saya mengajarkan basic medical knowledge dan product knowledge kepada team sales, juga presentasi ke para dokter di rumah sakit untuk memperkenalkan produk yang kami miliki. Setahun di Interbat saya mulai resah dan merasa sudah saatnya diakhiri, karena saya mulai memiliki impian untuk menjadi pembicara. Pembicara seperti apa, gambarannya juga belum jelas, entah marketing, motivasi, atau yang lainnya. Kalau saya tetap bertahan sebagai seorang medical trainer, mengajar hal-hal yang berkaitan dengan medis, maka tidak akan mungkin saya bisa menjadi seorang pembicara seperti yang saya inginkan. Apalagi saya bukanlah seorang yang scientific dan kurang tertarik dengan hal-hal medis. Aneh memang, lulusan Dokter yang tidak mau menjadi Dokter. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan keluar untuk mencoba hal yang baru, marketing. Pemikiran saya waktu itu, marketing akan membawa saya ke tujuan yang ingin saya capai, Pembicara. Bukankah marketing ilmu yang universal dan laku untuk dijual?

Perusahaan kedua tempat saya bekerja, tahun 2005, adalah Tempo Scan Pacific, menjadi Product Executive dan memegang belasan produk. Enam bulan di marketing, saya ditawari atasan untuk pindah ke bagian sales sebagai Sales Supervisor. Keinginan untuk mencoba hal baru dan menambah pengalaman membuat saya menerima tawaran tersebut dan bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya saya kembali ke product karena merasa tidak cocok lagi. Keinginan menjadi Pembicara tidak pernah pudar, sehingga saya memutuskan untuk sekolah lagi mengambil magister manajemen sebagai bekal saya nanti waktu mengajar. Setelah menyelesaikan kuliah, saya kembali harus mengambil keputusan besar, tetap meneruskan di marketing atau banting stir ke pekerjaan yang lain, seperti yang saya inginkan. Dan saya memilih yang kedua.

Tahun 2011, Kalbe Farma menjadi tempat pemberhentian saya berikutnya, melakukan turn around dengan bergabung di HRD. What a kind of career! Berpindah-pindah dan tak jelas. Memulai sesuatu hal baru lagi dengan menjadi trainer di bidang soft skill, baik untuk kepentingan internal (mengembangkan karyawan) maupun eksternal (mengajar di outlet rekanan bisnis perusahaan). Bertemu dengan banyak outlet, merasakan kegairahan mengajar dan kegembiraan berbagi, membuat saya kembali berpikir ulang, apakah tetap menetap di sebuah perusahaan menjadi pilihan yang tepat, ketika saya merasa banyak hal tidak sejalan dengan tujuan pribadi saya. Dua bulan menimbang-nimbang, mengingat kembali 10 tahun yang lalu ketika saya duduk sendirian di tempat praktek, keinginan menjadi seorang pembicara yang waktu itu belum jelas bentuknya, tetapi sekarang semakin jelas. Kecemasan, was-was, takut, merupakan bagian dari pergumulan yang saya alami. Berdiskusi dengan rekan-rekan yang sudah lebih dulu mengambil jalur itu juga saya lakukan untuk bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Ketika gambaran itu semakin mengkristal saya merasa saatnya untuk bertindak. Pilihannya adalah sekarang atau tidak sama sekali, karena waktunya tidak lama lagi. Saya memilih sekarang, karena saya tidak ingin suatu hari nanti saya ingat bahwa saya "pernah" punya mimpi. Saya tidak ingin suatu hari nanti saya menangisi mimpi itu. Lebih baik saya menangis hari ini karena jatuh bangun daripada menangisinya di kemudian hari.

1 Maret 2013, mengawali hari menjadi orang bebas yang memperjuangkan mimpinya untuk menjadi kenyataan. Mempersiapkan diri untuk memahami bahwa tantangan dan kesulitan akan menjadi makanan sehari-hari. Tetapi bukankah secara alami kesulitan itu sudah mengiringi kita bahkan sejak kita dilahirkan? Bayangkan seorang Ibu yang harus mengejan sekuat tenaga untuk melahirkan bayi nya, penuh dengan kesakitan dan kesulitan. Tetapi hasil akhirnya adalah keberhasilan dan kebahagiaan. Sejak bayi sampai balita kita mengalami kesulitan, mulai dari belajar tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, dan betapa hebatnya kita yang selalu bisa mengatasinya. Jadi ketika saya memutuskan menjadi freelance trainer dan keluar dari perusahaan, yang berarti harus bersiap tidak menerima uang bulanan, di saat itulah saya memutar kembali seluruh perjalanan hidup saya dan mengamini bahwa kesulitan selalu ada, tetapi saya mampu mengatasi dan melewatinya. Ini pun akan menjadi cerita seperti itu. Saatnya melangkah dengan penuh keyakinan, bahwa selalu ada jalan ketika ada kemauan dan bahwa kita harus terus bergerak maju. Mendiang Marthin Luther King Jr mengatakan:

If you can't fly, then run
If you can't run, then walk
If you can't walk, then crawl
but whatever you do,
you have to keep moving forward

Selamat menjalani hari-hari yang luar biasa, Tuhan memberkati.

Life Begins at Forty?

Life begins at 40! Kemarin saya memasuki usia 40 dan mencoba membuktikan kebenaran pernyataan itu. Benarkah hidup dimulai di usia tersebut? Apa yang membuatnya terasa istimewa sehingga begitu diagungkan, bahkan menjadi inspirasi sebuah karya? Di tahun 1980, almarhum John Lennon menciptakan sebuah lagu yang berjudul Life Begins at 40, ketika yang bersangkutan memasuki usia tersebut. Jauh sebelumnya, Walter B. Pitkin, seorang penulis Amerika mengarang sebuah buku yang berjudul Life Begins at Forty di tahun 1932. Sebegitu dahsyat kah usia 40 sehingga menjadi fenomenal? Saya menilik diri sendiri dan bertanya-tanya adakah hal istimewa yang saya rasakan? Jawabannya: ada, tangan penyertaan Tuhanlah yang membawa saya ke usia 40. Empat puluh tahun menjalani hari demi hari bukanlah waktu yang pendek, dan ngeri rasanya kalau saya harus berjalan sendiri. Hal istimewa lainnya adalah pindah ke rumah sendiri dan melangkah keluar dari rutinitas bekerja di perusahaan untuk mewujudkan sebuah impian menjadi kenyataan. Kegalauan apakah saya bisa bertahan hidup ketika memutuskan untuk mandiri terkadang mengganggu pikiran, tetapi fakta bahwa burung pun dipelihara oleh Pencipta membuat saya yakin akan keputusan tersebut. Semua terjadi di usia saya yang ke-40. Kalau begitu benarkah life begins at forty? Tidakkah sebenarnya usia itu hanya masalah pikiran, state of mind, seperti penggalan lirik lagu John Lennon:

They say life begins at forty,
Age is just a state of mind,
If all that's true,
You know that I've been dead for thirty nine.

Kalau hidup dimulai di usia 40, apakah itu berarti selama 39 tahun
ini saya mati alias ada tapi tidak ada? Bukankah hidup itu berarti berkarya? Saya sedang bertanya-tanya tentang apa yang sudah saya lakukan selama ini untuk orang lain dalam 40 tahun kehidupan saya. Jangan-jangan saya terlalu sibuk dengan urusan saya sendiri dan egois menjalani hidup. Bukankah justru itu pertanyaan yang mendasar, bahwa kehidupan diukur dari apa yang sudah kita lakukan untuk orang lain, kontribusi yang kita berikan, dan bukan apa yang kita lakukan untuk diri sendiri? Apakah selama 40 tahun saya seperti bangsa Israel yang dihukum Tuhan, berputar-putar di padang gurun karena tegar tengkuk sebelum akhirnya masuk ke Tanah Perjanjian? Saya merenungkan semua itu, mengingat yang telah lewat dan menyadari betapa perjalanan saya seperti sebuah roller coaster, naik turun, cepat lambat, memicu ketegangan tetapi juga rasa rileks yang luar biasa setelah semuanya teratasi. Menengok ke belakang dan membuka ulang buku kehidupan membuat saya menyadari betapa Tuhan sangat menyayangi saya, lebih dari siapapun orang-orang terdekat selama ini. Tidak pernah sekalipun meninggalkan dan melupakan saya, apapun hal buruk yang saya lakukan. Tidak pernah sekalipun memaksakan kehendakNya, membiarkan saya melakukan hal-hal bodoh sesuai kehendak bebas yang saya miliki, tetapi kemudian membawa saya kembali kepadaNya dengan peristiwa-peristiwa menyakitkan yang saya alami. Dalam suka dan terutama duka Dia selalu ada, seperti jejak langkah di pantai yang hanya berisi jejak langkahNya karena saya digendong di kehangatan kasihNya. Tidak ada hal yang bisa menjadi alasan saya untuk tidak bersyukur dengan apa yang sudah saya alami menuju usia 40. God is good all the time, bahkan ketika kita tidak menjadi a good man. Ucapan selamat ulang tahun dan doa yang diberikan dari keluarga dan teman menggandakan berkat yang saya terima. Saya berbahagia menyadari bahwa ada orang-orang di sekitar saya yang mengingat dan menyimpan saya di dalam hatinya.

Tertantang dengan istilah life begins at forty, saya berselancar di internet mencoba menemukan jawabannya. Salah satu tulisan yang saya baca mengatakan bahwa pada usia 40, biasanya pria dan wanita sudah mencapai kemapanan dan memenuhi impian mereka, meskipun banyak juga yang merasa belum melakukan apa-apa atau mencapai prestasi untuk dirinya ataupun keluarganya. Usia 40 juga saat dimana seseorang ingin berbuat sesuatu yang berarti dalam hidup, berbuat sesuatu yang berbeda, mencapai hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, sehingga semangat hidup yang luar biasa muncul kembali. Secara fisik usia 40 ditandai dengan mulai menurunnya fungsi organ-organ tubuh, sehingga harus lebih berhati-hati dalam menjalani pola makan dan gaya hidup. Dikatakan juga bahwa pada usia tersebut, orang mulai merasa canggung karena secara umur tidak muda lagi tetapi juga belum masuk usia tua. Di usia 40 orang juga dituntut untuk bisa menjadi panutan dan teladan bagi sekeliling mereka. Intinya dianggap sudah matang, dan mampu memberikan pencerahan bagi diri sendiri maupun orang lain. Tetapi benarkah life begins at forty? Sekali lagi bagi saya itu hanyalah state of mind yang menyentuh sisi emosional. Kalau yang dimaksud kehidupan adalah ketika kita bisa memberikan arti bagi diri sendiri dan orang lain, rasanya tidak perlu menunggu sampai usia 40. Kalau patokannya matang dalam karir, saat ini banyak anak-anak muda yang sudah berprestasi di bawah usia tersebut. Jadi sebenarnya nikmati saja berapapun usia kita saat ini, tidak perlu menunggu usia 40 untuk memulai kehidupan yang berarti. Tetapi kalau saat ini kita sudah 40 atau lewat 40 dan belum memberikan kontribusi, mulailah untuk menata diri sehingga tidak hanya sekedar "hidup" tetapi ada "kehidupan" yang berkualitas.

Saya duduk dan memaksa diri menulis apa yang saya rasakan semalam. Terasa berbeda karena usia saya tidak lagi dimulai dengan angka 3 tetapi 4, saya sudah tinggal di rumah sendiri, dan memulai langkah baru untuk mencapai impian yang terus terngiang di benak saya, trainer dan writer. Hari ini saya kembali menjalani waktu yang terus berputar. Semestinya saya tidak lagi sama, tetapi semakin berkualitas seiring dengan pertambahan usia. Kalau sampai saat ini saya masih diberi kesempatan untuk hidup, itu artinya saya harus berbenah dan menjadikan hidup saya bermanfaat. Lebih sehat, sabar, dan tidak emosional. Berlaku bijak dan bajik menjalani hidup ini. Di sisi lainnya, tidak perlu menunggu sampai usia 40 untuk memulai sebuah kehidupan yang berkualitas kalau kita bisa melakukannya saat ini juga. Selamat menjalani hidup dengan penuh syukur dan menjadikan diri kita sebagai karya nyata!

Thursday, December 27, 2012

Catatan Akhir Tahun (1)


                                                                                    We become what we repeatedly do – Sean Covey

Merubah kebiasaan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi kebiasaan yang sudah melekat selama puluhan tahun. Itulah yang saya rasakan ketika memulai kebiasaan baru merubah pola makan. Sudah 1½ bulan ini saya membiasakan diri menyantap “rerumputan”- istilah saya untuk selada, tomat, mentimun, dan paprika sebagai pengganti makan malam, diperkaya aneka buah seperti apel, kiwi, jeruk, mangga, strawberry, pisang, melon, tergantung ketersediaan. Sebenarnya pola makan tidak berubah secara radikal, karena sarapan pagi masih ditemani dengan 3 gelas jus, dan makan siang juga seperti biasa. Diantara sarapan pagi ke makan siang dan jeda sore hari, saya masih menikmati kue-kue atau makanan lainnya. Tetapi ternyata efeknya cukup besar karena berat badan saya turun 3 kilogram selama 1½ bulan ini. Tentu saja dikombinasikan dengan olahraga rutin seperti jogging dan angkat barbel. Sebenarnya tujuan utama bukanlah menurunkan berat badan, tetapi meningkatkan kebugaran dan stamina karena saya merasa sangat capek setelah mengajar 3 hari berturut-turut. Selain itu saya terkejut ketika hasil medical check up terakhir menunjukkan angka kolesterol saya melebihi normal. Hal ini memotivasi saya untuk berubah. Kalaupun kemudian dampaknya adalah penurunan berat badan, saya tentu sangat bersuka cita karena berarti baju-baju lama yang sudah tidak muat bisa saya pakai lagi.
Jangka waktu 1½ bulan sebenarnya sudah cukup membuat sebuah perilaku menjadi kebiasaan yang melekat, tetapi ternyata itu tidak berlaku ketika saya pulang ke Solo. Entah karena nuansa rumah, liburan natal, ada keluarga, banyak makanan, atau memang kemauan kurang kuat, pola makan saya kembali ke selera asal: makan malam menu lengkap dan ngemil kue-kue tinggi kalori. Kesadaran saya sudah mengingatkan untuk kembali ke menu sehat, tetapi pemikiran “mumpung libur”, meluluhlantakkan semuanya. Sungguh benar kalimat bijak seperti ini: Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Dalam hati bertekad kuat, tetapi kenyataannya menyerah kalah. Pola makan sehat yang sudah menjadi kebiasaan baru menguap begitu saja. Tetapi bukankah makan nasi sudah menjadi kebiasaan saya selama berpuluh tahun? Sehingga sangat masuk akal kalau kebiasaan baru akhirnya takluk. Bahkan secara bercanda saya mengatakan bahwa “belum makan kalau belum ketemu nasi”. Mie, roti, kentang, masuk kategori makanan ringan dan bukan pengganti nasi. Padahal selama 1 ½ bulan kemarin lambung saya mulai terbiasa tidak selalu menerima nasi karena sempat beberapa hari tidak makan nasi dan diganti sumber karbohidrat lainnya. Porsi makan juga lebih sedikit karena terasa kenyang. Lalu mengapa bisa terkikis dengan begitu mudah? Saya mencoba mereka-reka hal sederhana ini ke dalam beberapa hal. Yang pertama adalah ingatan tentang masa lalu. Selama lebih dari 35 tahun saya terbiasa makan nasi sebanyak 3 kali, pagi siang dan malam. Bahkan sewaktu kecil karena ayah ibu tidak mampu menyediakan 4 sehat lima sempurna, terkadang menu yang tersedia adalah nasi dicampur dengan garam, parutan kelapa, dan krupuk. Bagi saya waktu itu rasanya sangat “maknyus”, dan sudah cukup membuat saya kekenyangan. Saat ini, suasana rumah yang nyaman, seperti membawa saya ke zaman dulu. Ingatan masa silam seringkali menjebak kita untuk kembali kepada kebiasaan lama. Tentu saja saya tidak bermaksud untuk mati-matian mengatur pola makan sehat secara kaku karena sebenanrya saya sangat fleksibel. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa terkadang ingatan masa lalu menjadi “pembenaran” bagi kita untuk tidak melangkah maju. Tahun 2012 hampir berakhir dan sesaat lagi kita memasuki tahun baru. Apapun yang terjadi di tahun ini sudah menjadi masa lalu di tahun depan. Kejadian-kejadian yang tidak membahagiakan, peristiwa menyakitkan, mungkin saja mewarnai tahun ini dan membuat kita menyebutnya sebagai tahun yang keras dan sulit, tetapi sekali lagi ketika melangkah di tahun baru, itu semua sudah menjadi masa lalu yang tidak akan pernah kita izinkan menyerobot masa depan.
Yang kedua adalah lingkungan. Ketika merubah pola makan, saya berada di lingkungan yang memiliki kebiasaan sama yaitu teman-teman kantor yang juga menerapkan hal tersebut. Membawa bekal berupa 1 kotak “rerumputan” bukanlah hal yang aneh karena yang lain melakukannya juga sehingga atmosfernya pun terasa. Salah satu teman kantor bahkan cukup ekstrim karena pernah 1 bulan penuh tidak makan nasi dan diganti dengan sayuran, buah-buahan, serta protein. Lingkungan memiliki pengaruh kuat terhadap kebiasaan yang kita bangun. Hal ini yang tidak saya dapatkan ketika pulang ke Solo. Hembusan anginnya adalah makan segala macam, dan interaksinya begitu kuat karena berada di dalam satu rumah. Hal ini mengakibatkan saya pun terimbas dan berpikir “ah, sekali-kali makan bebas dan tidak terikat waktu”. Sekali lagi saya tidak sedang menjalani pengaturan makan yang ketat, atau merasa sangat bersalah melanggarnya, karena bagi saya ini adalah hal sederhana. Saya hanya sedang berusaha melihat sebuah peristiwa dari perspektif yang lain. Lingkungan mempengaruhi diri kita. Kalimat bijak mengatakan “pergaulan buruk merusak kebiasaan baik”, memang terbukti. Bukan berarti pulang ke rumah adalah lingkungan yang buruk. Saya hanya sedang berusaha menarik benang merahnya, bahwa lingkungan memiliki pengaruh sehingga kita diajar untuk lebih bijak dan cerdas membawa diri.
Yang ketiga adalah setia pada tujuan. Seandainya saya memiliki ingatan masa lalu yang kuat, lingkungan yang tidak mendukung, tetapi kalau saya tetap memegang tujuan saya merubah pola makan, untuk kebugaran stamina dan menurunkan kolesterol, tentu saya akan tetap melangkah di jalur itu dengan konsisten. Ketika saya memberikan sedikit kelonggaran pada diri saya, ternyata berujung pada kelonggaran yang semakin besar. Konsistensi memang membutuhkan usaha dan tekad yang kuat. Ketika mengikuti kebaktian Natal di Solo, saya bertemu banyak teman-teman lama, termasuk para orang tua yang sekarang sudah menjadi kakek nenek dan terlihat renta. Dahulu ketika saya masih  pemuda-remaja, kami mengadakan persekutuan doa keluarga setiap Sabtu sore dan di situ kami dijadwal untuk memberikan renungan singkat semampu kami. Setelah selesai, para orang tua yang akan melengkapi dan memperkaya renungan yang kami bawakan. Persekutuan doa tersebut mendidik kami para pemuda remaja untuk berani mengupas firman Tuhan dan berbicara di depan umum. Tidak ada yang salah, karena nanti akan ditambahkan oleh para tetua yang ada di situ. Yang menakjubkan adalah persekutuan tersebut masih berjalan sampai sekarang, padahal sudah berumur 20 tahun lebih. Pembawa renungan pun masih digilir seperti dulu, dan kali ini giliran pemuda remaja zaman dulu menjadi tua tua-nya. Kesetiaan pada tujuan membawa kita kepada konsistensi.
Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru yang penuh harapan. Memupuk kebiasaan baru yang baik, yang membawa kita pada impian yang ingin kita capai memerlukan niat yang kuat.  Ingatan masa lalu, lingkungan, kesetiaan pada tujuan, adalah poin-poin yang perlu diperhatikan. Mungkin bukan sesuatu yang besar dan baru, tetapi seringkali hal-hal kecil kita lewatkan. Berawal dari hal yang sederhana, pola makan, saya mendapatkan banyak pembelajaran untuk melangkah lebih berani di tahun depan. Selamat meninggalkan tahun 2012, dan memasuki tahun 2013!

Wednesday, December 26, 2012

Dari Film 5 cm




There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure
 – Paulo Coelho, The Alchemist

Mendaki tidak pernah mudah tetapi bisa, meraih impian tidak pernah mudah tetapi bisa, kalimat itu terlintas di benak saya setelah selesai menonton film 5 cm. Meskipun tidak memberikan dampak emosi sebesar Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi, tetapi ada beberapa hal menarik yang layak untuk diingat. Yang pertama, persahabatan adalah hal berharga yang kita miliki. Kesuksesan diraih karena ada bantuan dan dorongan dari orang-orang sekitar kita. Impian yang digambarkan sebagai puncak Mahameru dalam film ini bisa ditaklukkan karena mereka berjuang dengan dukungan orang lain yang saling melengkapi dan menularkan harapan. Persahabatan juga diartikan sebagai jejaring atau networking, yang saat ini memegang peranan sangat besar untuk kesuksesan seseorang. Saya bekerja di perusahaan yang sekarang juga karena jejaring. Bermula dari menitipkan curiculum vitae (CV) saya ke seorang teman yang memiliki beberapa milis tentang ke-HRD-an sampai kemudian CV saya tersangkut di perusahaan yang sekarang. Mungkin saja CV saya sudah dilihat belasan perusahaan sampai akhirnya menemukan pelabuhan yang cocok. Saat wawancara pun posisi yang ditawarkan tidak seperti yang saya harapkan, tetapi ternyata itu menjadi gerbang ke penawaran lain yang kemudian saya terima, tanpa menggunakan surat lamaran ataupun cara-cara yang standar untuk mendapatkan pekerjaan. Saya percaya banyak orang yang juga sangat terbantu dengan jejaring yang mereka miliki.
Yang kedua adalah persiapan. Mendaki puncak Mahameru bukan hal mudah dan membutuhkan persiapan matang, baik perbekalan, fisik, maupun mental. Peralatan yang dibawa juga harus memadai sehingga membantu proses pendakian. Meraih impian membutuhkan persiapan, baik dalam hal ketrampilan, pengetahuan, dan terutama mental yang akan membawa kita ke sana. Tidak ada orang yang sukses tanpa persiapan. Saya teringat belasan tahun silam ketika ikut mendaki Gunung Merbabu untuk menyembuhkan hati yang patah. Itu adalah pendakian pertama saya. Perbekalan yang harus dibawa saya persiapkan dengan baik bahkan saya berlatih fisik dengan melakukan jogging secara rutin. Sampai sekarang saya masih ingat dengan jelas kata-kata teman saya waktu itu, bahwa kalau capek sebaiknya berhenti tetapi tetap dengan posisi berdiri dan jangan menekuk lutut atau jongkok karena akan membuat badan kita semakin berat ketika memulai pendakian lagi. Saya juga teringat bahwa kami harus mengatur makan dan minum sehingga cukup untuk sampai di puncak lalu turun lagi. Meskipun ketika turun gunung dan air sudah menipis, saya tidak ragu-ragu untuk mengisi botol mineral dengan air sungai dan meminumnya sampai tandas. Tidak terlintas sedikit pun bahwa saya akan sakit perut karena air tidak dimasak dan sebagainya. Hal-hal seperti itu adalah bagian dari persiapan mental, bahwa ketika mendaki gunung segala sesuatu bisa terjadi bahkan ketika yang kita persiapkan tidak cukup, kita harus tetap survive. Meraih impian pun juga harus bisa survive dengan segala kondisi yang ada di tengah perjalanan yang kita lalui.
Keberhasilan pendakian juga disebabkan adanya seorang pemimpin atau pemandu jalan yang sudah pernah mencapai puncak, bahkan berkali-kali,  sehingga sangat paham dengan rintangan dan liku liku perjalanan serta bagaimana mengatasinya. Ini adalah hal ketiga yang perlu dicatat, bahwa untuk meraih impian orang membutuhkan pemandu, pembimbing, atau mentor. Seorang mentor tahu persis apa yang harus dilakukan karena mereka sudah mencapai puncak pendakian. Mentor akan mengarahkan, memberi dorongan, pacuan, yang menuntun kita mengambil arah yang benar. Meskipun demikian, keberhasilan tetap sepenuhnya ada di tangan kita, karena seperti sebuah pendakian gunung, pemandu bisa menuntun kita, tetapi kitalah yang mengerakkan kaki, tangan, dan hati untuk mencapai puncak. Ketika mendaki Merbabu, saya benar-benar memperhatikan kata-kata yang keluar dari pemimpin kelompok, apa yang boleh dan yang tidak boleh, sampai akhirnya saya mencapai puncak. Sebuah pengalaman jiwa yang luar biasa, menaklukkan gunung setinggi 3.145 meter di atas permukaan laut dan menyaksikan matahari terbit secara dekat. Sayang sekali, ketika saya membongkar lemari untuk mencari foto-foto lama tersebut saya tidak menemukannya lagi. Sensasi yang ditimbulkan dari film 5 cm membuat saya kembali mengenang masa-masa belasan tahun silam. Seorang mentor juga menularkan keyakinan, sama seperti pemandu pendakian menularkan keyakinan kepada kelompoknya bahwa mereka akan sampai ke puncak, karena mereka pernah sampai ke sana! Tanpa keyakinan, kita tidak akan pernah mencapai impian.
Yang keempat adalah pengorbanan. Mendaki gunung tidak pernah mudah, tetapi ketika kita sampai ke puncak ada keindahan yang luar biasa. Perjalanan yang terjal, sulit, menguras energi bahkan terkadang air mata, tetapi tetaplah melangkah sampai menuju titik akhir. Seringkali kita harus beristirahat lebih lama karena terlalu capek, tetapi itu tidak akan menghentikan langkah kita. Istirahat adalah saat memulihkan tenaga untuk kemudian berjalan lagi. Semakin ke atas kemiringan semakin terasa, sehingga kita tidak bisa berdiri tegak tetapi setengah merayap untuk bisa terus naik. Ketika berjalan di jalan biasa kita hanya menggunakan kaki, tetapi ketika mendaki kita akan mengunakan semua daya dan alat yang kita miliki, bukan hanya kaki tetapi juga tangan. Ini menunjukkan bahwa mewujudkan mimpi membutuhkan totalitas dari apapun yang kita miliki. Di film 5 cm, menuju puncak ditandai dengan adanya abu vulkanik dan batu-batu yang jatuh dari atas, sehingga pendaki harus waspada. Meraih impian membutuhkan pengorbanan, kerja keras, dan ketegaran hati, seperti yang disampaikan dalam film tersebut, “yang kita butuhkan untuk mencapai puncak adalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.”
Yang kelima, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki goal yang sama. Saat mendaki gunung kita akan bertemu dengan kelompok pendaki gunung yang lain dan seringkali terjadi interaksi di situ. Di film 5 cm digambarkan bagaimana mereka meminta air kepada kelompok pendaki yang lain dan mendapatkan informasi-informasi yang berguna menuju puncak gunung. Secara logika, ketika kita melihat pendaki gunung lain yang juga sedang berjuang mencapai puncak tanpa mengenal lelah, kita juga akan terpacu menuju ke sana karena tertular semangat yang ditunjukkan. Untuk meraih mimpi kita perlu bergabung dengan orang-orang yang memiliki impian yang sama, karena di situlah sumber kita untuk belajar sehingga akan mempercepat proses pencapaian tujuan yang diharapkan. Terjadi proses transfer pengetahuan, ketrampilan, dan energi, sehingga potensi kita bisa keluar secara optimal.
Yang keenam adalah berdoa. Mendaki gunung berarti mematahkan ego akan kebesaran diri kita. Ketika mendaki Gunung Merbabu, saya merasakan betapa saya hanya sebuah titik di alam ini. Pepohonan yang lebat, jalan yang terjal, gunung yang kokoh, kekuatan alam yang dahsyat menyadarkan saya bahwa tidak mungkin saya bisa mencapai puncak dengan kekuatan sendiri. Tanpa perkenan Tuhan, saya tidak akan sampai ke tempat yang saya tuju. Meraih impian hanya bisa dicapai dengan pertolongan Tuhan. Saya memiliki keyakinan, bahwa ketika impian itu ditaruh di hati saya, Tuhan juga sudah menyiapkan tiket untuk ke sana, sisanya adalah kerja keras saya. Setiap impian yang terukir di hati manusia adalah doa yang tiada putus kepada Sang Pencipta.
Persahabatan-jejaring, persiapan, pemandu/mentor, pengorbanan, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki impian yang sama dan berdoa, adalah hal-hal yang saya catat dari film 5 cm. Memang tidak bisa dibandingkan dengan Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi karena latar belakangnya berbeda. Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi adalah potret nyata perjuangan anak manusia, sedangkan 5 cm adalah fiksi tentang persahabatan. Meskipun demikian banyak hal bisa dipetik dari film tersebut yang membuat saya terpacu untuk mewujudkan mimpi yang dimiliki. Mendaki gunung memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Apapun impian Anda saat ini, selamat menuju ke sana!

Saturday, December 15, 2012

Time flies


Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving
- Albert Enstein

Saya membuka mata di pagi hari dan berucap, selamat datang Desember. Tahun 2012 berjalan sangat cepat, bahkan sebentar lagi Natal tiba. Tahun berganti, waktu berlalu, hari demi hari yang dulu terasa jauh dan lama, sekarang terlewati. Waktu 24 jam sehari bisa berdetak lambat atau cepat, tergantung peristiwa yang dialami. Kebahagiaan dan kegembiraan menjadi alat percepatannya, sedangkan kesedihan dan kepedihan menjadi alat yang menahan waktu untuk tidak beranjak dari kita berpijak. Waktu yang mestinya matematis seringkali menjadi sangat dipengaruhi persepsi sehingga tidak bisa dihitung secara logika. Contoh nyata, ketika kita sangat mencintai pekerjaan dan asyik menikmatinya, jam kantor menjadi tidak berarti karena mendadak sudah larut malam. Atau ketika kita sedang berkumpul dengan orang-orang terkasih, waktu seakan berlari sehingga kebersamaan itu cepat selesai. Tetapi saat mengalami suatu kejadian yang tidak enak atau melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, waktu merambat begitu lambat. Apapun yang terjadi, satu hal yang tidak berubah adalah waktu selalu berjalan maju.

Saya menikmati hari-hari, mengamati keponakan yang sudah besar, bahkan 4 dari 10 keponakan sudah menikah. Serunya lagi saya sudah menyandang gelar 'nenek' karena menimang 2 orang cucu yang merupakan anak-anak mereka. Secara refleks saya bercermin dan menyadari bahwa ternyata saya memang sudah tidak remaja lagi, paling tidak beberapa teman kantor secara bercanda memanggil 'Oma' karena saya pernah memasang gambar profil menggendong cucu. Ingatan saya kembali ke masa dua puluh lima tahun silam ketika saya masih bermain main dengan mereka dan memboncengkannya di jok sepeda motor. Salah seorang keponakan di Solo yang dulu seringkali saya jemput ketika di Taman Kanak Kanak, dan saya bimbing belajar dimalam hari sekarang sudah mahasiswa Teknik Sipil tingkat akhir. Ah, menyenangkan juga mengingat semuanya, tetapi itu semua sudah lewat. Terkadang saya tidak menyadari berharganya waktu sampai saya memahami bahwa hari-hari yang saya tinggalkan menyimpan banyak cerita.

Waktu tidak bisa diputar ulang. Apa yang sudah terjadi hanya bisa diingat, dikenang, disyukuri, atau bahkan diratapi. Tetapi apakah gunanya semua itu, karena kita belajar dari waktu yang terus bergerak maju tanpa ada yang mampu menahan. Kalaupun dalam hidup kita ada banyak kejadian yang tidak sesuai harapan, saatnya terus berjalan tanpa ragu seperti waktu. Waktu adalah contoh tentang konsistensi, setiap detik berdetak, seirama dengan putaran alam. Apa yang dialami, keberhasilan-kegagalan, kebahagiaan-kesedihan adalah dua sisi mata uang yang silih berganti, sama seperti siang dan malam yang mewarnai dunia mengikuti hukum alam. Waktu berlalu, peristiwa berlalu. Jadi semestinya tidak perlu berhenti di suatu masa hanya karena kita terlalu berbahagia sehingga tidak mau melepaskannya, atau terlalu sedih sehingga berkubang di dalamnya. Semua memiliki porsinya sendiri, seperti siang dan malam yang saling melengkapi.

Waktu terus berjalan apapun yang terjadi, demikian juga hidup kita. Peristiwa datang dan pergi, ada yang menjadi kenangan, ada yang menghilang. Orang juga datang dan pergi berulang kali. Saya sedang mencoba menikmati setahun terakhir dengan belajar dari waktu. Mau kemana kita? Roda kehidupan berputar, tidak pernah ada waktu dan tanggal yang sama sepanjang zaman. Pertanyaannya, apakah kita akan melaluinya sia-sia, atau kita akan membuatnya menjadi waktu-waktu indah setiap hari apapun yang terjadi? Jawabannya ada di hati kita masing-masing. Saya lagi belajar dan berharap bisa lulus, menghitung hari demi hari yang saya lewati, mempersiapkan Natal dan Tahun Baru yang tinggal hitungan hari. Pilihan ada di tangan kita. Selamat menjalani hari-hari dengan bijaksana!

Saturday, December 8, 2012

Menembus Batas



                                   The sky is not my limit...I am - T.F. Hodge

Saya mengamati gambar profil teman yang menunjukkan 3 buah anak panah meluncur ke tembok. Satu anak panah berhasil menembusnya sedangkan dua lainnya berhenti tepat di dinding. Statusnya bertuliskan “menembus batas”, sama dengan judul presentasi motivasi yang sedang saya persiapkan untuk acara National Sales Conference akhir tahun ini. Teman tersebut adalah rekan kerja semasa saya menjadi penyiar di sebuah radio di Salatiga. Dua belas tahun sudah berlalu, dan saya kagum dengan pencapaiannya saat ini. Kecintaannya pada radio membuat dia meninggalkan gelar akademisnya di bidang Hukum dan menekuni kepenyiaran. Keputusan yang mungkin dirasa cukup riskan mengingat dia adalah seorang pria yang nantinya menjadi kepala rumah tangga.  Bukankah lebih aman berada di “jalur yang benar”? Tidak bermaksud memandang sebelah mata terhadap dunia radio, tetapi menjadi penyiar di kota kecil tentu memberikan pemasukan yang berbeda dibandingkan penyiar terkenal di Jakarta. Teman saya kemudian memutuskan keluar dari Salatiga, berpindah ke beberapa kota, lalu mendarat di Jakarta dengan posisi yang baik. Saya melihatnya sebagai hasil sebuah proses panjang dari seseorang yang menjalani passion dengan sepenuh hati.

Cerita lain berasal dari Kediri, sesama teman penyiar yang menjadi mentor saya ketika saya pertama kali siaran. Dua belas tahun semenjak kami berpisah, sekarang saya mengenalnya sebagai pemilik usaha di bidang branding dan pelaksanaan event. Bahkan baru-baru ini teman tersebut mengikuti shooting rekaman komedi situasi dengan Indro Warkop di Jakarta yang akan tayang di sebuah stasiun televisi. Hebat! Pencapaian yang berasal dari ketekunan dan kesetiaan pada proses. Saya masih mengingat dengan jelas, masa-masa disaat kami siaran, lucu dan menyenangkan. Alangkah membahagiakan bisa bertemu mereka kembali saat ini dalam posisi yang sudah sangat berbeda.

Menembus batas berarti melakukan terobosan. Saya memaknai batas sebagai garis yang memisahkan bidang, misalnya batas kepulauan, negara, atau daerah. Batas juga bisa diartikan sebagai sebuah kondisi yang tidak bisa ditembus atau dilanggar. Contoh, batas usia mengambil pendidikan dokter spesialis adalah 40 tahun, sehingga di atas usia tersebut tidak akan diterima karena tidak memenuhi syarat. Dalam kehidupan sehari-hari kata batas seringkali dipakai secara abstrak, misalnya “batas kesabaran”. Kata batas dalam konteks ini tidak bisa dilihat secara jasmaniah, tetapi dapat dirasakan. Lalu bagaimana kita menerjemahkan menembus batas sebagai hal yang positif?  Kata “batas” disini merujuk pada sebuah kondisi dimana kita tidak bisa maju lagi sehingga harus berhenti dan menyerah, sebuah titik dimana kita tidak mungkin lagi berjalan. Inilah yang terjadi pada banyak orang dan tentu saja saya sendiri, yang seringkali melihat batas-batas tersebut menjadi “batasan atau keterbatasan” dan member pemakluman kenapa kita tidak bisa. Batasan bisa berupa keterbatasan fisik, materi, lingkungan, pola pikir yang menghambat kita berjalan menuju keberhasilan. Berita bagusnya adalah ada banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bahwa ada orang-orang dengan keterbatasan fisik tetapi mampu berjalan di atas keterbatasan itu. Contoh nyata adalah Patricia Saerang, wanita kelahiran Manado yang lahir tanpa tangan yang sempurna, tetapi mampu melukis dengan kaki dan menjadi anggota AMFPA (Association of Mouth and Foot Printing Artists atau asosiasi para pelukis cacat yang melukis dengan kaki atau mulut) yang berpusat di Swiss. Patricia mengatakan, bahwa Tuhan tidak memberikan tangan dan kaki yang normal, tetapi menganugerahinya pikiran yang tajam dan kemauan yang kuat untuk bertahan hidup dan menjadi manusia yang produktif (Paulus Winarto, 2009).

Batasan materi mengingatkan saya pada film Laskar Pelangi, cerita sepuluh orang sahabat yang berjuang merubah nasib. Kemiskinan dan keterbatasan fasilitas sekolah tidak menghalangi mereka untuk berprestasi dan menjadi juara. Lingkungan juga sering dijadikan dalih sebagai batasan kita untuk maju. Orang yang dilahirkan dalam lingkungan yang kurang mendukung, merasa tidak memiliki hak untuk berhasil.  Selain ketiga hal tadi, satu batasan lagi yang paling penting adalah keterbatasan pola pikir yang terkungkung oleh pembatas-pembatas yang dibuat sendiri. Keterbatasan ini menjadikan kelimpahan fisik, materi, dan lingkungan menjadi tidak ada artinya karena semua hal yang terjadi akan dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Contoh di dalam lingkup pekerjaan kantor, seringkali kita menyalahkan lingkungan dan orang lain sebagai penyebab buruknya kinerja kita. Atasan yang tidak mau mengerti, bawahan yang kurang tanggap, rekan kerja yang seenaknya sendiri, prosedur yang berbelit-belit, menjadi pembenaran kita untuk gagal. Atau seringkali kita dibatasi oleh ketakutan, ketidakpercayaan diri, keengganan mencoba, dan ketidakmauan untuk berubah. Pola pikir tersebut akan mempengaruhi seluruh sendi nafas dan menyeret kita untuk mempercayai bahwa kita tidak mungkin menjadi orang yang berhasil karena memiliki begitu banyak keterbatasan. Seperti seseorang yang berada di balik jeruji penjara dan mendapat kesempatan untuk mengintip dunia luar. Apakah dia hanya melihat jeruji yang melingkupinya, atau dia melihat indahnya langit di luar sana dan termotivasi untuk berubah dan berbuat baik sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk direhabilitasi.

Ketika membuat slide presentasi satu demi satu, saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya orang yang berhenti dalam batasan-batasan, atau saya berani bergerak dan berpikir di luar kotak. Seringkali saya takut, tidak percaya diri, minder, dan tidak yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Saya selalu membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain dan merasa begitu kecil, tak berarti. Pola pikir ini membawa saya pada dinding tembok yang tidak akan pernah runtuh karena saya tidak berani menerobosnya. Yang diperlukan adalah keberanian untuk berjalan menembusnya, berhasil atau gagal itu lain cerita. Seringkali yang terjadi saya merasa tidak bisa dan melangkah mundur, sehingga dinding tembok pun tidak bergeming.

Apa yang harus dilakukan untuk mampu menembus batas seperti yang dilakukan oleh teman saya? Tentu saja mengikis pola pikir yang membatasi dan menggantinya dengan can do attitude. Perilaku yang membangkitkan semangat di dalam diri bahwa “saya bisa”. Jangan sampai belum mulai melangkah sudah merasa tidak mampu. Perilaku ini tentu tidak muncul begitu saja karena berasal dari kemauan untuk berubah, dari yang selalu berpikir “tidak bisa” menjadi  “bisa” , dari yang selalu berpikir “saya kecil” menjadi “saya berharga”, dari yang berpikir “saya tidak percaya diri” menjadi “saya percaya diri”, karena jika kita tidak percaya kepada diri sendiri, bagaimana kita berharap orang lain akan percaya kepada kita.

Menembus batas, adalah saat dimana kita menerobos segala batasan dan keterbatasan, seperti anak panah menerobos tembok dan terus bergerak maju. Kuncinya adalah kemauan berubah, can do attitude, percaya diri, dipadu dengan konsistensi yang tidak pernah berakhir. Mengikuti proses yang harus dijalani dengan tekun, dan memiliki pengharapan bahwa suatu hari nanti proses itu akan memberikan hasil yang menyenangkan. Kegagalan adalah bagian dari sebuah perjalanan. Selamat menembus batas, dan bergerak tanpa henti.

Sunday, November 18, 2012

Matang Pohon


Mangga harum manis “matang pohon” = Rp 23.900, mangga harum manis “super” = Rp 14.500, mangga harum manis “harga special” = Rp 8.900. Beraneka jenis mangga tersedia di sebuah toko buah tempat saya membeli buah dan sayur. Sebenarnya saya lebih suka berbelanja di pasar tradisional, tetapi akhir-akhir ini saya beralih ke toko buah karena mencari sayuran organic. Meskipun begitu, kebutuhan buah sehari-hari yang berkulit seperti pisang, melon, alpukat, jeruk, tetap tersuplai dari pasar, sedangkan buah yang bisa langsung dimakan dengan kulitnya seperti apel, pir, saya beli di toko. Alasannya sederhana, di toko lebih fresh dan ‘terkadang’ lebih murah.


 Pandangan saya berhenti di jajaran mangga karena ada beragam jenis yang ditawarkan. Harum manis, manalagi, gedong gincu, dan indramayu. Saya terdiam sesaat di depan mangga matang pohon dan memegang-megang buahnya. Sangat menarik, dan ingin mencoba kenikmatannya. Bukankah matang pohon identik dengan buah yang manis? Harganya hampir 3 kali lipat dibanding yang biasa, tetapi sangat menggoda. Meskipun demikian, saya agak ragu dengan tampilannya karena banyak yang masih keras, berwarna hijau, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kematangan. Intinya tidak seperti mangga harum manis “harga special” yang tampak menguning dan harum. Ada sebersit ketidakpercayaan dan was-was untuk membeli karena takut tidak enak. Sudah mahal, asam, rugi banget!  Walaupun di papan penunjuk tertulis “matang pohon”, yang menjelaskan bahwa mangga tersebut sudah matang, saya tetap memanggil petugas toko untuk memastikan apakah mangga tersebut sudah matang atau belum sekaligus minta dipilihkan yang manis. Dengan tersenyum petugas toko mengatakan bahwa semua mangga yang tersedia tersebut sudah matang dan manis, jadi meskipun penampakannya hijau dan keras, sebenarnya itu sudah matang. Saya cukup diyakinkan dengan penjelasan tersebut dan membeli beberapa buah mangga sebagai pemuas keingintahuan saya.


Buah matang pohon tentu jaminan mutu. Dengan harga sepuluh ribu rupiah 1 biji, saya membayangkan alangkah lezatnya. Bandingkan dengan harga sepiring nasi, sayur, tempe, dan telur mata sapi di warung tegal yang berada di kisaran harga yang sama tetapi sudah mengenyangkan. Cukup menyesakkan, tetapi karena penasaran saya tetap membelinya. Biasanya dengan sepuluh ribu rupiah saya mendapatkan 1 kg mangga, tetapi sekarang 1 biji saja. Lalu apa bedanya? Ketika saya menikmati mangga tersebut, yang ada hanyalah rasa manis, enak, dengan sedikit gas, tanpa sedikitpun rasa asam. Nikmat dan segar. Bahkan kalau diminta untuk membeli lagi saya tidak keberatan karena sangat memuaskan.


Matang pohon jelas berbeda dengan buah yang diperam. Kenapa menjadi mahal, kemungkinan karena proses perawatannya membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih lama. Sedangkan buah yang diperam tidak perlu menunggu matang karena akan dikarbit untuk mempercepat proses pematangan. Itulah mengapa, terkadang ada mangga yang berwarna kekuningan, harum, tetapi memiliki rasa yang tidak semanis tampakan luarnya. Itu semua karena buah tersebut “dibuat” matang, dan bukan matang alami. Kalau matang pohon, rasakan bedanya.


Hal sederhana ini membuat saya merenung, bahwa buah pun memiliki perbedaaan antara “matang pohon” dengan “matang dikarbit”. Penampakan luarnya bisa sama, tetapi rasanya berbeda. Seperti manusia yang seringkali ingin mempercepat proses dan mendapatkan hasilnya, tetapi ternyata hukum alam mengatakan bahwa proses harus dilalui sempurna untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Alam tidak pernah “jump to result”, setidaknya itu yang bisa dipelajari dari buah-buahan. Proses yang benar akan menciptakan hasil sempurna, kualitas prima, dengan harga maksimal. Tetapi yang terjadi biasanya manusia ingin cepat, hanya melihat hasilnya saja. Seperti ketika saya makan di sbuah rumah makan seafood dan menyaksikan ramainya orang makan di sana. Wah, enak benar jadi pengusaha, kalau hasilnya seperti ini pasti  kaya raya. Penilaian yang sangat superficial karena saya tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya, proses yang harus dilalui, jatuh bangun, sampai menjadi seperti sekarang.  Contoh yang lain, melihat seorang rekan yang menjadi pembicara motivasi, dengan harga fantastis hanya untuk berbicara selama 2 jam, seringkali membuat saya cemburu dan berpikir “gitu aja saya juga bisa”, tanpa menyadari proses yang sudah dilalui, bahwa selama lebih dari 10 tahun membangun karir, diawali dengan berpuluh kali ditolak perusahaan-perusahaan ketika menjajakan materinya, sampai tidak dibayar pun mau yang penting punya kesempatan berbicara, itulah yang sudah dilalui untuk menjadi seperti sekarang. Itu semua adalah proses pematangan, sehingga wajar kalau sekarang memetik hasilnya.


 Saya percaya kehidupan kita mengikuti hukum alam. Tidak ada hasil yang “tiba-tiba”, semua melalui proses. Kalau prosesnya dipercepat  alias dikarbit, hasilnya pun kurang manis, kualitas tidak terjamin. Seperti ratusan mangga karbitan yang ada di dalam box, seringkali kita menemukan sebagian diantaranya masih asam meskipun dari luar tampak matang. Karena itu jangan heran harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan mangga “matang pohon”.  Kesuksesan, kepemimpinan, kedewasaan karakter, semua melalui proses. Istilah instan cukup menjadi milik kopi, mie, bubur, dan sejenisnya. Bahkan gadget paling canggih pun hanya berfungsi mempermudah hidup kita, bukan menggantikan proses yang harus dilalui. Karena itu jangan pernah berharap naik pangkat kalau kita tidak menjalankan proses pematangan dengan benar. Intinya mengerjakan segala sesuatu di atas standar yang telah ditetapkan, kalau itu sudah dilakukan tinggal menunggu waktu saja. Hukum alam tidak pernah meleset. Contoh lain kalau saat ini Anda seorang pemimpin dan ingin menjadi pemimpin hebat yang disegani, jangan mundur ketika dihadapkan dengan berbagai proses pematangan melalui peristiwa-peristiwa yang harus Anda hadapi dan selesaikan.


Sekali lagi tidak ada “karbitan” yang semanis “matang pohon”. Setiap pencapaian di dalam hidup ini terbentuk melalui proses pematangan hari demi hari. John C Maxwell mengatkan “sukses dibangun setiap hari”, jadi tidak ada yang “tiba-tiba”. Proses ini pasti menyita waktu, tenaga, dan emos, tetapi percayalah ada buah yang manis di akhir nanti. Bahasa bekennya “semua indah pada waktunya”. Waktunya adalah ketika proses sudah dilalui dengan sebaik-baiknya, yang terbaik dari diri kita, sehingga membentuk karakter dan mempersiapkan kita naik ke tangga berikutnya. Jangan pernah mau menjadi “karbitan”, ikuti hukum alam.  Alam sudah menyediakan banyak pembelajaran, dari peristiwa sehari-hari. Selamat menjalani proses dengan suka cita dan menjadi orang yang “matang pohon”.

Monday, November 12, 2012

Nasi Goreng Kereta (dan perubahan)


Nasi goreng kereta! Itu istilah saya untuk sajian nasi goreng yang dijajakan di restorasi kereta api. Saya sangat merindukannya setelah bertahun-tahun absen naik kereta sampai akhirnya saya harus ke Tegal. Sejak membeli tiket di Gambir, hati saya sudah dipenuhi gambaran tentang nasi goreng  dan dengan seru membicarakannya dengan teman-teman kantor. Geli juga menyadari bahwa mereka memiliki kenangan yang sama, terutama teman-teman perantauan dari daerah Semarang-Solo-Jogja. Nasi goreng, telur mata sapi, irisan tomat dan mentimun, serta kerupuk kecil terbungkus plastik sebanyak 2 buah. Menggelikan, karena jumlah kerupuknya pun kami masih ingat!

Gambir am coming! Senang rasanya menjejakkan kaki ke stasiun ini lagi, dan menyadari bahwa Gambir sangat berubah. Bersih, tertata rapi, begitu juga toiletnya, jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ketika masuk peron, saya disambut dengan petugas yang meminta kartu tanda pengenal untuk dicocokkan dengan tiket yang saya bawa. Stempel “sesuai identitas” akan segera diberikan kalau nama yang tertera di tiket sama dengan kartu pengenal. Sayangnya saya tidak menemukan kejadian seandainya ada tiket yang tidak sesuai dengan kartu pengenal, apakah tidak boleh masuk atau tetap diizinkan. Mungkin hal ini dilakukan oleh kereta api untuk menurunkan insiden “calo” yang sering membeli tiket tanpa mencantumkan nama. Perubahan lain adalah tidak diizinkannya pengantar untuk masuk peron, sehingga hanya sampai di depan saja, dan  membuat peron menjadi lebih longgar, banyak tempat duduk. Setelah masuk ke peron saya kembali dibuat kagum dengan perubahan yang ada, yaitu tersedianya dua buah charger box dengan beberapa panel kontak, sehingga sangat memudahkan pengguna handphone yang baterainya mati. Ada juga fasilitas internet gratis, dengan kecepatan yang sangat baik dan sebuah pesawat telepon yang disediakan untuk percakapan gratis 3 menit dengan syarat nomor yang dihubungi adalah provider sponsor. Iseng-iseng saya mencoba mengetes apakah berfungsi dengan baik, dan ternyata memang bisa digunakan.

Akhirnya kereta yang saya tunggu tiba juga. Ketika masuk gerbong saya kembali dibuat kagum dengan inovasi yang dilakukan kereta api. Di setiap tempat duduk ada 2 buah panel kontak yang terletak di dinding kereta, sehingga penumpang tidak takut kehabisan baterai. Bagi saya ini inovasi yang sangat mengerti konsumen, karena dengan lama waktu perjalanan yang panjang, konsumen direpotkan apabila kehabisan baterai di tengah jalan. Hal ini juga sangat membantu bagi penumpang yang menggunakan laptop atau gadget lainnya tanpa takut kehabisan baterai. Sebenarnya saya sudah menyiapkan power bank untuk cadangan karena mempertimbangkan bahwa perjalanan selama 5 jam akan membuat baterai handphone saya habis, sementara mungkin saja ada hal-hal penting yang harus saya komunikasikan. Adanya panel kontak tersebut membuat saya merasa nyaman dan aman. Sungguh, kereta api sangat mengerti pelanggan.

Saya duduk tenang menikmati perjalanan sambil menunggu makan siang, tetapi alangkah kecewanya ketika petugas restorasi mengatakan bahwa nasi gorengnya sudah habis. Terpaksa saya menunda keinginan tersebut sampai keesokan harinya ketika saya harus kembali ke Jakarta. Bahkan saya berjanji untuk segera ke restorasi begitu masuk gerbong karena tidak mau kehabisan lagi. Hahaha! Setelah memendam keinginan akhirnya rasa penasaran saya terobati keesokan harinya dengan sepiring nasi goreng di depan mata. Ada sedikit perubahan karena tidak ada tomat , tetapi ada penambahan daging ayam. Krupuk kecilnya masih sama. Saya tersenyum geli, update status sebentar, dan mulai menikmati 1 sendok pertama. Mengunyah, dan merasakan kelezatannya sampai titik terakhir. Enak, tetapi saya merasa tidak seenak dulu. Dulu ketika kereta menjadi pilihan, saya sangat menikmati nasi goreng dan menganggap rasanya sungguh enak. Tetapi sekarang terasa biasa saja. Lalu apanya yang berubah?  Nasi gorengnya, saya atau dua-duanya?

Nasi goreng, Gambir, dan kereta api mengingatkan saya bahwa perubahan selalu terjadi, baik pekerjaan, keluarga, teman, atau apapun yang ada di sekitar kita. Seringkali kita resisten terhadap perubahan dan tidak mau mengikutinya. Seperti stastiun Gambir yang telah berubah menjadi lebih cerah, nasi goreng kereta pun bisa berubah.  Dulu saya menganggapnya enak, tetapi mungkin sekarang lidah saya sudah terbiasa merasakan yang lebih enak, sehingga menjadi biasa saja. Seringkali kita begitu stagnan dan menolak perubahan padahal perubahan datang kapan saja. Seorang teman yang baru saja kehilangan anak buahnya karena diberhentikan mau tidak mau harus mengambil alih pekerjaan sampai ada penggantinya. Berat karena menambah pekerjaan, tetapi sebagai seorang pemimpin, itu adalah resiko yang harus ditanggung, dengan tuntutan target yang tidak berubah. Yang bisa dirubah adalah sikap kita, menjalani tanpa meratapi.

Nasi goreng kereta, meskipun sederhana mengingatkan saya akan satu hal, perubahan terus terjadi, bahkan ketika kita mungkin tidak mengharapkannya. Lalu apa yang harus kita lakukan? Resisten, atau menganggap itu sebagai tantangan yang harus dijalani? Pilihannya ada di tangan kita masing-masing. Tidak ada yang salah dengan perubahan, karena mengikuti atau tidak, hidup akan terus berputar.  Seperti ketika saya menikmati nasi goreng kereta, rasa yang saya lukis di otak berbeda dengan kenyataan yang ada, sehingga walau kerinduan terobati tetapi sensasi yang dibawa tidak seperti yang dibayangkan. Meskipun demikian saya tetap puas dan menyadari bahwa itu adalah bagian dari perubahan. Entah nasi gorengnya yang berubah, saya yang berubah, atau dua-duanya, semuanya mungkin dan sah-sah saja. Perubahan adalah sesuatu yang natural dan terjadi setiap hari tanpa henti, tinggal bagaimana kita menjalani  dan berteman dengan perubahan tersebut. Selamat menikmati perubahan, enjoy saja!

Monday, November 5, 2012

Kebanggaan = Efek Samping


Saya bangga bukan main ketika mendengar kabar bahwa Sadu, keponakan saya yang kuliah di Teknik Sipil melaju ke final Lomba Karya Tulis Ilmiah tentang grand design bersama 2 orang temannya. Wah, hebat nian! Mungkin kebanggaan seperti inilah yang dirasakan oleh banyak orang tua terhadap anaknya, sehingga tak jemu-jemu bercerita tentang keberhasilan putra putrinya. Terkadang saya melihat profil picture mereka dihiasi oleh gambar anaknya yang menjadi juara, entah prestasi akademis atau lainnya. Kebanggaan saya juga dipicu karena semasa mahasiswa saya belum pernah ikut lomba semacam itu. Saya bahagia dengan kabar tersebut dan memberikan masukan kepada orang tuanya agar Sadu mencari beasiswa ke luar negeri untuk kelanjutan belajarnya. Saya merasa pendapat saya sangat baik, tetapi jawaban orang tuanya sungguh menarik, yaitu “terserah anaknya”.  Kata “terserah anaknya” terasa sangat provokatif ketika banyak orang tua merasa paling mengerti  yang terbaik untuk anaknya. Seperti kita yang terkadang merasa paling tahu tentang hidup orang lain, dan tidak menyadari bahwa hidup mereka adalah milik mereka, bukan milik kita. Persis seperti orang tua yang sibuk mengkursuskan anaknya dengan beragam aktivitas seperti piano, balet, gitar, dan lain sebagainya, hanya karena dahulu mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk kursus seperti itu dan sekarang mendorong anaknya melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan, yang belum tentu sesuai dengan minat dan bakatnya.
Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita penuh semangat mengenai anaknya yang ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam lomba menggambar dengan menggunakan komputer. Saya merasakan kebanggaannya yang meluap-luap, padahal hanya lewat blackberry messenger. Teman saya bercerita dengan antusias bahwa ternyata bakat seninya menurun pada anak, sedangkan keahlian bermain computer menurun dari suaminya. Saking bahagianya dia mengatakan bahwa sungguh menyenangkan menyadari sang buah hati mewarisi bakat tersebut. Sejurus kemudian profil picturenya berganti-ganti, antara foto anaknya yang sedang menggambar dengan hasil gambarnya. Saya geli mendengar cerita dia, karena beberapa waktu sebelumnya, teman saya mengomel panjang lebar mengenai kelakuan para Ibu di sekolah yang sibuk mengikutkan putra putrinya ke lomba ini dan itu padahal sang anak tampak cuek-cuek saja.

Saya menarik benang merah bahwa sebuah prestasi atau perbuatan baik yang ditorehkan selalu membawa kebanggaan bagi orang-orang terdekat. Meskipun tidak menjadi pelaku, tetapi keberhasilan yang dicapai membawa kebahagiaan tersendiri. Hal ini pula yang saya amati pada acara final I2C (Idea to Customer) Award untuk teman-teman marketing dan BasO (Basic Operation) Competition untuk team sales di kantor tempat saya bekerja. Para finalis yang maju, 7 dari I2C dan 7 dari BasO, terseleksi dari puluhan peserta yang ada. Saya melihat begitu besar antusiasme supporter dalam memberikan semangat kepada finalis yang maju sehingga terbangun atmosfer yang sangat positif bahwa mereka memiliki kebanggaan terhadap rekannya yang bertanding.  Bahkan ketika hasil kompetisi tidak seperti yang diharapkan, para supporter tidak putus-putusnya memberi dukungan. Maju ke final dan menyisihkan puluhan peserta adalah prestasi besar, sehingga sangat pantas untuk dihargai, meskipun belum menjadi pemenang.
Kebanggaan, itulah yang tampak pada kisah yang saya sampaikan. Saya bertanya kepada diri sendiri, apakah saya sudah memberikan kebanggaan kepada orang-orang terdekat selama ini, ataukah justru kekecewaan? Apakah kebanggaan mereka begitu penting artinya, jauh melebihi kebanggaan saya terhadap diri sendiri? Apakah saya “terjebak” dengan usaha memberi kebanggaan sehingga kebanggaan orang lain terhadap saya menjadi satu-satunya tujuan hidup? Saya mencoba merenungkan pertanyaan tersebut karena terusik hasil percakapan dengan seorang teman baru-baru ini. Ketika berbicara mengenai kebanggaan, teman saya mengatakan bahwa dia berkewajiban membuat orang tuanya bangga terhadap dirinya melalui dua hal yaitu jabatan dan uang. Teman saya meyakini bahwa kedua faktor tersebut sangat menentukan, terbukti setiap orang tuanya bercerita tentang keberhasilan anak-anak orang lain selalu diukur dari kedua hal itu. Inilah yang membuat dia masih bertahan dengan pekerjaannya sekarang walau merasa tertekan. Meskipun kurang sependapat, saya mencoba memahami bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Pertanyaannya, apakah kebanggaan orang tua terhadap kita adalah satu-satunya tujuan yang kita kejar dalam hidup ini? Kenapa tidak berpikir sebaliknya bahwa ketika kita menjadi yang terbaik dalam “kehidupan versi kita”, maka kebanggaan itu akan menyusul? Menjalani hidup dengan bertujuan memberikan kepuasan dan kebanggaan orang lain merupakan harga yang terlalu mahal untuk dibayar, karena kita berusaha hidup dengan “ukuran” orang lain.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya kebanggaan bukanlah tujuan tetapi efek samping. Seperti Sadu yang masuk final Lomba Karya Tulis Ilmiah, saya percaya tujuan awalnya bukan untuk kebanggaan orang tua, tetapi ekspresi diri untuk berkarya, atau anak teman saya yang pasti sama sekali tidak paham apa itu kebanggaan orang tua selain menggambar dan menggambar, demikian juga para finalis kompetisi I2C dan BasO yang awalnya hanya ingin melakukan yang terbaik di dalam pekerjaannya. Menyadari hal tersebut, saya belajar menghargai diri dengan apa yang saya lakukan sekecil apapun, dan tidak berusaha membuat orang lain bangga dengan apa yang saya lakukan. Kebanggaan terlahir dari sebuah prestasi yang dicapai karena kerja keras dan keinginan memberi yang terbaik. Saya percaya dengan spirit seperti itu, maka kebanggaan orang lain terhadap kita akan muncul dengan sendirinya. Kita tidak disibukkan dengan keinginan membanggakan orang lain karena yang terpenting bukanlah pendapat mereka tentang kita tetapi apa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita. Persis seperti kata kakak saya yang mengatakan “terserah anaknya”, karena yang paling tahu tentang potensi, minat dan kemauannya adalah dia sendiri.  Kebanggaan adalah efek samping, bukan tujuan. Karya terbaik, itulah tujuan kita, dan ketika kita mencapainya, kebanggaan orang lain terhadap kita tinggal menunggu waktu saja.